Senin, 09 Juli 2018

Makna Hijrah Mbah Sarijem

Jika ada artis atau siapapun yang dengan tanpa ada angin apa-apa berubah penampilan menjadi (yang dibilang) syar’i, atau mereka yang suka mengoarkan bahwa dirinya telah berhijrah dan kembali ke jalan Allah, mungkin saya akan ada dalam barisan orang-orang yang akan mengatakan “Apaan sih -_-“ kepada mereka yang menyebut dirinya telah berhijrah. 

Bukan rasis apalagi perkara menistakan agama, karena definisi hijrah yang saya pahami dan yakini bukanlah semata-mata mengganti pakaian dengan yang lebih “syar’i” dan mengkoarkan dengan bangga bahwa dirinya telah berhijrah.

Di hari ke-3 penempatan saya dan tim KKN 2018 di salah satu dusun di Kulon Progo, saya menemukan satu hal yang membuat saya dan mungkin beberapa teman saya merasa terharu dan perasaan lain yang tak bisa dijelaskan lewat tulisan. 

Hari itu saya dan tiga orang teman perempuan saya sedang melakukan kegiatan rutin harian kami yaitu sholat maghrib berjamaah di sebuah masjid. Jamaah di sana notabene mbah-mbah yang sudah lanjut usia. Pak Kaum pernah mengatakan bahwa agenda yang bisa dilakukan setelah berjamaah maghrib sembari menunggu adzan isya adalah tadarus Alquran. Oke lah kita merasa bahwa tadarus Alquran bukanlah sesuatu yang 

Ketika selesai berjamaah di hari itu, ada seorang mbah kakung yang mengajak kami tadarus Alquran. Kami langsung ancang-ancang mengambil Alquran dan siap membacanya di serambi belakang masjid. Namun, ternyata tadarus yang dimaksud Pak Kaum bukan seperti yang kita pernah kami lakukan sebelumnya. Tadarus di sini artinya adalah mengajari mbah-mbah untuk membaca Alquran dengan benar dan 

Saya tercengang, tidak siap, dan rasanya ingin pulang saja ke rumah Bu 

Bagaimana tidak? Seorang bocah kemarin sore yang belum memiliki ilmu apa-apa diminta untuk mengajari seorang lanjut usia yang usianya sangat jauh di atas 

Karena tidak bisa menolak permintaan mbah kakung, saya dan tiga orang teman saya masing-masing telah bersama mbah yang akan kami simak bacaan Alqurannya. Bersama saya, ada Mbah Sarijem yang telah siap dengan 

Sebelum mengaji, Mbah Sarijem menceritakan bahwa dirinya baru mulai belajar membaca Alquran di usia 60 tahun, tepat 10 tahun yang lalu. Kalau dihitung, berarti usia beliau sekarang adalah 70 tahun. Dengan menundukkan kepala beliau berkata lirih “Ora popo yo mbak marai wong tuo sek iseh koyo cah TK, hehehe.” yang artinya “Tidak apa-apa ya mbak, mengajari orang tua yang masih seperti anak TK, hehehe”. Saya menjawabnya dengan berkata “Ya tidak apa-apa mbah, mbah di sini mau terus belajar saja saya ikut senang sekali” dalam Bahasa Jawa halus.

Mulailah kami dengan membaca Al-Fatihah bersama-sama, dilanjut membaca Alquran sesuai batas baca masing-masing dan seterusnya. Bacaan Mbah Sarijem sudah bagus, hanya masih ada beberapa bacaan yang panjang-pendeknya masih kurang tepat, serta dengung atau tidaknya saja yang masih kurang. Selebihnya sudah bagus, menurut yang pernah diajarkan kepada saya.

Shodaqallahul’adzim...”

Tiga lembar lebih sedikit yang telah dibaca Mbah Sarijem ketika adzan isya mulai terdengar. Kegiatan kami pun berhenti dan dilanjut dengan sholat isya 

Dalam perjalanan pulang saya merasakan perasaan seperti yang saya jelaskan di paragraf awal, tidak bisa dijelaskan oleh tulisan (hehehe). Senang ya senang, terharu ya terharu, sedikit tergelitik karena Mbah Sarijem selalu tertawa dan mencolek saya ketika bacaannya salah dan sebagainya.

Mbah Sarijem mengajarkan saya bahwa mungkin inilah makna hijrah yang sesungguhnya dari nenek lanjut usia yang melakukan rutinitas keagamaan dengan menggunakan satu motivasi: nggo sangu mati, begitu kata mbah.

Jika di kelas psikologi perkembangan mengatakan bahwa lanjut usia adalah usia dimana seseorang lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, mungkin saya akan lebih nyaman menyebutkan bahwa  lanjut usia adalah usia dimana seseorang melakukan hijrahnya. Dari yang kurang baik menjadi baik, dan dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Walaupun tidak harus menunggu lanjut usia untuk melakukan sebuah hijrah. Hehehe.